Ketika dibangku MTs, seorang gadis cantik yang bernama Sinta selalu diam dan sabar. Dia adalah murid pindahan dari
Seminggu minggu berlalu, Sinta dan Sindy semakin akrab begitu juga dengan Toni. Kami bercanda tawa bersama sampai kita lupa sarapan siang, lalu kami pergi ke kantin bersama dan kami makan bersama disana. Setelah itu, tak terasa bel pun berbunyi tanda pelajaran dimulai kembali.
“Aku masuk dulu ya ? “, kata Toni sambil melempar senyuman.
“Ya”, jawab Sinta dan Sindy membalas senyuman manis Toni. Dan pelajaranpun berjalan dengan lancar tanpa ada halangan apapun. Tiba-tiba bel berbunyi kembali tanda berakhirnya pelajaran. Sinta dan Sindy sangat senang, kemudian, mereka meninggalkan kelas. Setelah itu, Sinta menyuruh Sindy untuk pulang terlebih dulu. Ternyata alasan Sinta menyuruh Sindy pulang hanya untuk bertemu dengan Toni, lalu Sinta melihat Toni yang sedang duduk di gerbang, dan dia menghampirinya. Dan ternyata si Sindy tidak pulang, malah dia ngintip mereka berdua yang sedang berbincang-bincang.
Ternyata Sinta punya rasa terhadap Toni semenjak dia bertemu dengannya. Akhirnya disitulah Sinta mengungkapkan perasaannya kepada Toni, tapi, Toni menolaknya.
“Kalau aku terima Sinta untuk jadi pasanganku, tapi bagaimana dengan Sindy? Aku sayang banget sama dia”,suara hatinya berkata.
Tiba-tiba ada suara di balik semak-semak, ternyata Sindy yang berada disana. Lalu Sindy lari dengan hati yang tak karuan.
“Ya Robbi, semenjak aku berteman dengan Sinta, aku mulai jatuh cinta pada Toni. Tapi, mengapa bisa terjadi seperti ini?. Mengapa Sinta punya perasaan yang sama denganku?. Ya Robbi, bantulah hambamu ini. Hamba tidak tahu lagi apa yang harus hamba lakukan”, suara hatinya berkata.
Setelah itu, tanpa pikir panjang Toni dan Sinta mengejar Sindy. Tapi, apalah daya Sindy telah jauh meninggalkan mereka. Akhirnya mereka langsung pulang karena hari semakin sore.
Pagi harinya, Sindy duduk termenung di depan perpustakaan. Melihat Sindy, Sinta menghampirinya.
“Eh Sindy, kemarin ngapain kamu ngintip aku dan Toni. Bukannya aku suruh kamu pulang?”, tanya Sinta setengah marah.
Sindy hanya diam dan menangis. Lalu Sinta pergi meninggalkannya. Tiba-tiba Toni datang menghampiri Sindy.
“
Lalu Sindy kaget dan menatap wajah Toni. “Apa semuanya itu benar?”, tanya Sindy mengakhiri tangisannya.
“ Apa kamu masih belum percaya padaku, Aku mencintaimu Sindy, aku mencintaimu”, ungkap Toni meyakinkan Sindy.
“Aku sebenarnya juga mencintaimu Toni”, jawab Sindy dengan senyum kegembiraan. “Lalu bagaimana dengan Sinta?”, tanya Sindy.
“Udahlah kamu nggak usah mikirin dia, yang penting kita bisa bersama selamanya” kata Toni memberi harapan yang membuat hati Sindy berbunga-bunga.
Paginya, Sinta menghampiri Toni lagi. Akan tetapi Toni meninggalkannya begitu saja.
“Kenapa Toni berubah seperti itu ya?”, tanya Sinta penuh dengan kegelisahan dalam hati. Sinta mencari alasan mengapa Toni tiba-tiba berubah seperti itu. Seminggu minggu berlalu, Sinta marah-marah dan menangis tanpa sebab, hingga tak ada satupun dari temannya yang berani menghampirinya. Dia marah karena, dia tahu kalau Sindy punya hubungan dengan Toni. Kini Sinta sering nggak masuk sekolah tanpa ada keterangan.





0 komentar:
Posting Komentar